This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label Pengingat Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengingat Diri. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Oktober 2011

Bukan Konsultan




Apa yang terbesit dalam benak tema-teman ketika mendengar kata konsultan? Ya, orang yang melayani konsultasi gampangnya begitu ya? Hehehe, ini definisi menurut saya. Definisi menurut saya pribadi,seseorang yang bukan konsultan. Hanya kadang-kadang dimintai jadi orang yang belajar untuk menjadi pendengar yang baik.

Dahulu saya bingung, kenapa ada orang yang mau curhat dengan saya. Saya kan bukan psikolog, belum jadi pendengar yang baik pula, belum jadi penyabar juga. Jadi teringat ketika tengah malam, handphoneku berbunyi. Dalam hati, mungkin orang usil tengah malam begini telpon. Tapi tetap saja kuangkat, biasanya langsung saya matikan. Sambil kriyip-kriyip mata ini, tetap melayani permintaan orang yang tidak saya ketahui. Aneh, terasa aneh sekali bagiku. Terdengar suara perempuan. Dia tidak memperkenalkan diri, hanya menyampaikan bahwa mendapat nomor hp dari kawannya. Thuing....... bikin bertanya tanya, ada apa seorang cewek, tengah malam begini telepon, mau curhat. Saya tidak kenal dengan dia, kawannya yang ngasih nomor hp saya siapa juga tidak saya ketahui hingga sekarang, tidak pula saya tanyakan kepadanya. Kok ya saya yang dihubungi, dimintai solusi, padahal saya baru saja mau merebahkan badan, karena habis pingsan di tengah malam. Pasti serius nih, bisik dalam hatiku. Sama sekali tidak berbayang bakal dicurhati seperti ini.Amanah yang berat, takut salah ngasih saran.
Saya dengarkan dia bercerita. Terdengar begitu berat masalah dia. Dia hamil di luar nikah. Dia mengatakan, bahwa itu bukan kesalahan dia. Dia bukan tipe wanita yang suka bergaul dengan laki-laki, dan saya percaya saja. Dalam pikiran saya, ya entahlah, mungkin saja dia dijebak, diracun, dsb. Dia bingung bagaimana dengan janin yang dia kandung sekarang.......Astaghfirullah, Ya Allah, kenapa Engkau kirimkan aku seseorang yang meminta nasihatku di kala aku sendiri sedang merasa lemah, ataukah memang demikian caraMu menjadikanku kuat dan bersyukur. Engkau berkehendak menjadikan aku kuat dengan memahami orang lain, dengan berempati pada yang sedang Engkau uji, dan mengingat banyak nikmat yang Engkau berikan, sehingga aku harusnya bersyukur bukan berkeluh kesah. Ujian yang diberikan masih dalam batas wajar, ada banyak orang yang diuji lebih dariku.

Itu hanyalah salah satu kisah. Beraneka ragam cerita yang harus kudengar dari mereka, menjadi pembelajarn buatku, dan aku bisa mengambil hikmah dari mereka. Mungkin takdirnya harus belajar dari orang lain seperti ini. Yang jelas, saya bukan konsultan, hanya sekadar jadi tempat curhatan. :)

Ya Allah Yang Maha Melindungi, kami memohon kepadaMu agar senantiasa melindungi kami, membimbing langkah kami dan menyinari hati kami dengan nur kasihMu, sehingga kami dapat melihat yang benar adalah benar dengan jelas dan mengikutinya, serta yang melihat yang buruk adalah buruk dengan jelas, dan menjauhinya.

Sabtu, 23 Juli 2011

Wadah Pembawa Takdir




Baca judulnya saja, mungkin sudah terasa berat muatannya ya? Sama halnya dengan saya ketika mendengar kata-kata itu. Sangat terasa makna yang dalam. Takdir, kata benda abstrak. Tak bisa kita pegang seperti sebuah buku, pensil, daun, handphone, laptop atau benda konkret lainnya, namun jelas adanya. Menjadi keharusan pula bagi kita untuk meyakininya, mengimaninya. Namun saya sendiri hingga saat ini belum tau, seperti apakah takdir saya ke depan. Hingga berapa tahun usia saya di dunia ini. Saya pun yakin,tak hanya saya yang tidak mengetahuinya, tapi semua manusia. Yang ada hanyalah manusia yang menduga ataupun berharap akan takdirnya, meskipun dugaan ataupun harapan akan takdir (keinginan akan takdirnya) adalah sesuatu yang belum pasti.

Seperti yang saya tulis di posting sebelumnya, Allah itu seperti sangkaan hambaNya. Dia memberikan ruangan keleluasaan bagi makhlukNya untuk berharap sebaik-baiknya, dan sebanyak-banyakNya. Tanpa dimintapun Dia berikan. Apalagi yang diminta? Dahulu kita tidak meminta padaNya agar kita memiliki dua mata yang dapat melihat, telinga yang bisa mendengar, tangan dan kaki yang bisa digerakkan, dan masih banyak lagi. Lantas apakah yang menjadi penghalang bagi kita untuk meminta? Meminta segala hal yang kita inginkan, apalagi untuk sesuatu yang mendatangkan keridhoanNya.

Kita hanyalah makhluk yang Allah ciptakan. Atas sifat rahmaan dan rahiim-Nya, kita berada di sini, lengkap dengan segala takdir yang menempel pada diri kita. Apapun itu yang telah menjadi ketentuan dan ketetapan Allah untuk diri kita. Mungkin itukah yang dimaksud dengan diri kita sebagai wadah pembawa takdir. Wallahu a'lam. Hal yang pasti harus diyakini, bahwa segala kehendakNya adalah sesuatu yang terbaik yang Dia berikan untuk kita. Dalam sepanjang waktu yang pernah kutempuh, Dia mengingatkan bahwa memang diri kita adalah milikNya. Diri kita adalah makhluk yang berada dalam kuasaNya. Segala sesuatu terjadi atas kehendak Dia. Segala hal yang Dia kehendaki pasti terjadi, entah kita suka entah tidak suka.

Bersandar, berharap padaNya. Segala sesuatu yang terjadi menjadi pembelajaran bermakna pada diri kita. Menjadi pendewasaan bagi diri kita. Menjadi lahan amal kebaikan bagi diri kita. Berharap bahwa keberadaan diri kita senantiasa berada dalam rengkuhan Rahmaan dan Rahiim-Nya, dalam peliharaanNya, hingga menjadikan diri kita senantiasa memberikan kemanfaatan bagi makhlukNya, siapapun,kapanpun dan dimanapun. Berharap bahwa kita mampu melalui setiap perjalanan yang sulit sekalipun hanya bertemankan keimanan.

Ada pengharapan-pengharapan yang ditujukan untukku. Aku sadari itu, tak mudah mewujudkan harapan-harapan itu. Sebuah visi di masa depan yang jauh membumbung tinggi, seolah untuk menjadi payung ketenangan bagi bumi dan seisinya. Terasa berat benar mengatakannya, karena memang terasa berat amanah itu. Kulihat ada cita-cita besar nan mulia, bukan sekadar untuk menunjukkan kebesaran nama semata. Dalam hati aku berdecak kagum alangkah hebatnya para pengemban amanah yang mampu menunaikan amanah itu dengan sebaik-baiknya. Berbekal keimanan dan tuntunan dari Rabbnya Yang Maha Tinggi, hingga mencapai kemuliaan hakiki. Saya menyadari keberadaan diri, dengan segala kelemahan yang kumiliki. Keberadaan diri kita hanyalah sekadar wadah. Sebuah cita-cita mulia akan tetap tercapai dengan ataupun tanpa keberadaan diri kita, sebab akan selalu ada yang menegakkan cita-cita mulia itu ada ataupun tiadanya diri kita. Kita hanyalah pengemban amanah yang diberikan masa waktu untuk menunaikannya. Akan senantiasa ada batasan waktu untuk diri kita berbuat. Sekadar merengkuh yang kita mampu. Sekadar berusaha menggapai apa yang bisa kita capai. Kalaupun cita-cita itu terwujud, atas rahmat dan kasih sayangNya, bukan semata atas usaha dan keberadaan diri kita. Kita, hanyalah sekadar wadah pembawa takdir

Hanya kepada Allah Yang Maha Kuasa atas segala-galaya, Yang Maha Rahmaan dan Maha Rahiim, memohon, memelas agar diri kita senantiasa dijaga, dilindungi, dilimpahkan dengan segala kasih sayangNya, dan mampu untuk menebarkannya kepada semua makhlukNya untuk sebuah kemuliaan hakiki.




Pertengahan Sya'ban 1432 H,
Terima kasih kepada semua untuk setiap harapan dan lantunan do'a yang dipanjatkan untukku, untuk istiqomah dalam kebaikan
:)

Sabtu, 02 Juli 2011

Multithinking, Multifocus, Multitasking




Menjelang rapotan anak-anak, rasanya kepala kebek, penuh dengan muatan pikiran. Laporan nilai kelas I-V, rekap nilai kelulusan kelas VI, laporan keuangan satu tahun, belum urusan akreditasi. Bukan kepala sekolah aja seabrek kebek sampai bikin klepek. Di sela-sela mikir pekerjaan madrasah, masih jatah untuk ujian kuliah, persiapan nikah kakak kandungku, juga klienku, menghabiskan "cemilan" dari Pak Raga dan masih aktivitas ngglidig lainnya. ...... astaghfirullah......Baru kali ini serasa keok pikiran ini, seolah tak ada ruang pikiran untuk jeda sesaat. Sampai akhirnya,sesaat menjelang tidur merenung.... teringat akan tulisan Maulina. Klengernya dia ketika ditinggal bapak ibu-nya yang sedang ibadah haji, dan harus menggantikan peran ibunya untuk masak, membangunkan adik-adiknya, dll. Tapi kenapa ibunya mampu mengerjakan semua urusan itu tanpa mengeluh. Bahkan ibunya adalah seorang kepala sekolah yang senantiasa on time berangkat kerja. Kalau ibunya bisa, kenapa dia tidak? Hasil dari baca sana sini, dapat suatu kesimpulan wanita itu memiliki kemampuan untuk melakukan banyak pekerjaan dalam satu waktu. Bisa masak disambi menyapu, bersih-bersih, membangunkan anak-anaknya bahkan sambil ngomel juga bisa (peace ^_^, saya juga wanita, mengakui kalau sering mengomel juga he he he). Semuanya bisa dituntaskan dalam waktu yang terbatas.

Masa ujian yang bersamaan dengan masa persiapan akreditasi, saya sempatkan untuk membaca bahan perkuliahan, meskipun sedikit sekali. Ujian terakhir adalah mata kuliah Sistem Operasi. Pas kondisi sedang keok, alhamdulillah dapat pencerahan, dari menghubung-hubungkan antara kuliah komputer dengan keadaan yang saya hadapi. Sebuah sistem operasi di dalam komputer memiliki kemampuan untuk multitasking, multiprocessing, dll....... gak hafal. Komputer mampu mengerjakan berbagai proses secara bersamaan. User menjalankan program winamp sekaligus mengetik menggunakan MS Word juga browsing menggunakan mozzila firefox. Semua bisa dilakukan bersamaan. Saya renungkan, komputer itu kan buatan manusia. Manusia itu kan lebih cerdas dari komputer. Kalau begitu, kenapa tidak mencoba saja ya? Mengerjakan segala urusan yang numplek itu. Kalau sekadar saya mengeluh dengan banyak pekerjaan juga tidak akan mengurangi pekerjaan kan???

Awalnya saya ragu-ragu. Tapi dari baca bukunya pak Ippho (Right), saya jadi ingat. Keyakinan adalah sebuah kekuatan. Kita meyakini bahwa Allah itu ada. Allah itu adalah Tuhan, Sang Khalik, yang menciptakan kita. Dialah Yang Maha Kuasa. KekuasaanNya meliputi seluruh alam, baik di langit dan di bumi. Pokoknya segala-galanya. Bila Dia berkehendak, maka tiada suatu apapun yang mampu menghalangi. Saya ingat pula, bahwa Allah itu, tergantung pada prasangka hambaNya. Semua itu membuat saya menyimpulkan, saya bisa multithinking, alias memikir banyak hal terkait segala yang sedang numplek di depan saya. Saya bisa multifocus, dapat fokus, konsentrasi dengan apa yang saya pikirkan. Multitasking, saya bisa mengerjakan amanah-amanah yant tak cuma satu itu hingga tunai.(Mohon jangan protes tentang definisi-definisi ini he he he-red). Mungkin ada yang heran, ragu-ragu, maaf, itu urusannya ,he he he, sebab saya sedang belajar, dan saya meyakini ini. Saya yakin Allah akan memudahkannya. Tak ada yang tak mungkin bila Allah berkehendak, dan saya berprasangka baik pada Allah, Allah akan memampukan saya. Otak saya ukuran dan kemampuannya mungkin, tetapi Allah pasti akan melipatkan kapasitas dan kemampuan untukku agar dapat menunaikan amanah-amanah ini. Masa' saya tidak yakin kalau Allah mampu mengabulkan dan mewujudkan prasangka saya ini.

Perlahan-lahan, saya nikmati padatnya aktivitas di otak saya, juga aktivitas-aktivitas lainnya. Saya menaikkan jatah waktu untuk rehat sejenak dengan sholat. Saya keluhkan capeknya pikiran dan fisik saya dengan seabrek aktivitas ini. Saya mulai tingkatkan untuk refreshing dengan membaca Qur'an. Alhamdulillah........ saya rasakan lebih baik. Waktu rasanya lebih longgar dari sebelumnya. Semula saya khawatir dengan amanah bersama rekan-rekan muda saya bakal tersingkirkan bahkan tak ada alokasi memori untuk memikirkannya di otak saya. Akan tetapi, ternyata BISA. Saya biasanya sangat susah untuk mencari waktu buat cari buku. Alhamdulillah, bisa terlaksana. Saya bisa menikmati cemilan berupa softfile kiriman pak Raga di madrasah, sembari ngerjakan administrasi sekolah, sembari sesekali chating dengan teman di ym dan facebook, He he he. Mulai berkurang kalimat "saya lagi crowded urusan akreditasi"........ ALHAMDULILLAH..........!!!!!!! Semua atas kehendak dan kuasaNya. Karunia Allah yang tak terhingga nilainya. ^_^


Ya Allah Yang Maha Kuasa, kami memohon kepadaMu, agar senantiasa menguatkan iman kami kepadaMu,
Kami memohon kepadaMu pula, jauhkanlah kami dari putus asa
Jauhkanlah kami dari hal-hal yang sia-sia.
Wahai Allah Yang Maha Rahman Maha Rahiim, jadikanlah keberadaan kami senantiasa memberikan manfaat bagi siapapun, kapanpun dan dimanapun. Aamiiin


To : All of my teachers : terima kasih atas ilmu, semangat, doa dan kepercayaannya padaku. and Maulina, terima kasih atas tulisan yang memberikan inspirasi bagiku, walaupun dirimu tiada menyadarinya. he he he.

Selasa, 21 Juni 2011

Seuntai Do'a Dari Timika




Allah selalu punya hadiah untuk kita...
Sebuah cahaya di kegelapan
Sebuah rencana untuk setiap hari esok
Sebuah jalan keluar untuk permasalahan
Sebuah kebahagiaan untuk setiap kesedihan
dan sebuah kedewasaan untuk setiap ujian yang datang
Aku pun punya hadiah istimewa untukmu....
Sebuah do'a yang kupanjatkan dengan rasa cinta karena Allah
Semoga kebahagiaan, kemudahan, kesehatan dan keselamatan selalu menyertaimu...
sukses di dalam da'wah
kejar impian
Aamiin . . . .


Hpku bergetar, dan kulihat ada satu pesan yang dikirim oleh seseorang yang telah lama tak berjumpa denganku. Deg..... hatiku haru membaca untaian kata-kata itu. Rangkaian kata-kata syarat makna. Terlebih aku telah lama tak berjumpa dengan sang pengirim. Haru hatiku, karena kutau cintanya padaku, sementara tiada pernah ketulusan cintanya berbalas sepadan dariku. Seseorang yang banyak tau tentang baik dan burukku, sekaligus menyayangiku, bahkan tatkala aku melupakannya pun, ia masih menyempatkan diri untuk melafalkan do'a-do'anya untukku.

Tiada kusadari. Telah lebih dari lima tahun kami berpisah. Jadi nostalgia kenanangan masa lalu. Betapa nyleneh dan nyentriknya diriku. Masih ingat ketika itu aku ditanya, bila diumpamakan sebagai benda, seperti benda apakah diriku. Disuruhnya aku menggambar di atas kertas. Lalu kugambarkan garis-garis tak beraturan, dan kukatakan. Ini adalah sketsa air. Aku laksana air, yang menerjang apa yang ada di depan yang menghalangiku. Kemudian aku disuruhnya menggambarkan sesuatu yang mencerminkan keadaanku 5 tahun yang akan datang, lalu kugambarkan batu nisan. Ketika ditanya, apa maksudnya, lalu kujawab dengan enteng, ini gambar batu nisan. Batu nisan itu adalah penanda mati. Mungkin dalam waktu lima tahun lagi, aku sudah tiada lagi. Kulihat di raut mukanya nampak keherananan, tapi dengan enteng kukatakan. Ya itulah diriku. Duh duh duh........... bila ingat masa itu. Konyol sekali diriku. Berbeda dengan temanku yang menggambarkan vas bunga yang cantik. Ia memang terlihat jauh berbeda denganku. Cantik dan anggun, santun pula. Tapi..... itu diriku jaman dulu. Sekarang, aku??????? Aku berbeda. Berbeda usia. He7. Semoga berbeda pula dengan keadaanku saat itu. Semoga telah ada perubahan padaku. Perubahan menuju kebaikan, dan mau tidak mau harus kuakui...... bisa jadi........ kebaikan yang kemudian mulai menjalar dalam diriku adalah atas do'a-do'a yang dilantunkan oleh orang-orang yang dengan ketulusan mencintaiku. Tanpa pernah kutau, mereka senantiasa berdoa tiada jemu untuk kebaikanku.

Teringat akan sebuah kisah, dua orang bersahabat yang "berlomba" berdoa kepada Allah, untuk mengetahui doa siapakah yang makbul. Orang pertama memohon kepada Allah agar dirinya dijadikan kaya dan berkecukupan. Selang beberapa waktu kemudian, mereka berjumpa, lalu menanyakan kabar masing-masing. Orang pertama memamerkan kepada kawannya, bahwa do'anya telah dikabulkan. Dia berpikir bahwa do'a kawannya tidak terkabul, karena tak tampak adanya perubahan perbaikan dalam kehidupan kawannya itu. Lalu orang kedua mengatakan, bahwa dia hanya berdo'a, agar Allah berkenan mengabulkan do'a kawannya itu.

Bisa jadi, tercapainya apa yang menjadi cita-cita kita, kesuksesan yang kita dapatkan hingga hari ini, adalah karena Allah mendengarkan dan mengabulkan do'a dari orang-orang yang mendoakan kita. Bahkan bisa jadi, keistiqomahan kita dalam kebaikan kita hingga hari ini adalah karena ada orang lain yang mendoakan kita, lalu Allah memberikan keridhoanNya.

Kekerasan hati telah menggerogoti hatiku, sehingga kepekaan hati semakin menepi. Duhai Allah, ampunilah aku, dan lindungilah ia, kasihilah ia, balaslah kebaikan-kebaikannya, mudahkanlah segala urusannya dan ridhoilah ia. Seseorang yang masih mencintaiku, masih menyayangiku karenaMu. Seseorang yang dengan kesabarannya mengajariku mengenalMu. Seseorang yang dengan ketekunannya mendidikku agar berubah menjadi lebih baik. Seseorang yang berada di Timika, yang masih setia mengalunkan doa.



Especially for mbak Har :)

Senin, 09 Mei 2011

I Love Me

Rupanya sudah lama tidak posting tulisan. Bukan karena sibuk, tapi sok sibuk dan ketularan mikir UN, padahal tidak ikut ujian...... Istirahat sejenak dari aktivitas menjemukan dengan menulis...... silakan dibaca...... ^_^

Jangan heran dengan judul tulisan kali ini. Jangan protes pula. Pernahkan kita ungkapkan kalimat itu pada diri sendiri? Saya akui baru akhir-akhir ini saya latih untuk mengucapkan pada diri sendiri. Ya, saya mencintai diri saya sendiri. Jangan terlalu sempit memaknai kata-kata itu. Kalimat itu bukanlah indikasi kalau saya patah hati. Bukan pula manifestasi kekecewaan, bukan pula karena ditinggal teman-teman ngglidig.


Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.(QS. 66:6)


Apa iya, kalau kita tidak mencintai diri sendiri bisa mau memelihara diri?
Apa iya, kalau kita tidak mencintai diri sendiri kita mau bersyukur pada Allah?
Ketika merenung, bukankah salah satu manfaat yang kita dapat ketika bersyukur adalah akan semakin melimpahnya nikmat yang Allah berikan pada kita?

Seringkali tanpa sadar kita tak mensyukuri diri, lalu membenci diri sendiri karena tak tercapainya target-target. Termasuk saya. Misalnya ketika dahulu masih di bangku sekolah, kalau tidak masuk tiga besar terus murung. Merasa benci, kenapa gitu saja gak bisa.

Bagaimana dengan sekarang? Alhamdulillah, rasa dan ungkapan cinta pada diri sendiri menjadi motivasi. Maaf bila dinilai narsis. Tapi bukan berarti meremehkan orang lain dan menyombongkan diri. Aku mencintai diriku sendiri, yang semangat, yang tak mudah menyerah. Mau belajar untuk maju, meskipun harus mendapat kritikan. Kepada orang lain saja mau memberikan reward, kenapa pada diri sendiri tidak? Meskipun reward tak harus berupa permen, coklat, ataupun kelengkeng. Bisa pula penghargaan untuk diriku adalah dengan ungkapan, aku cinta pada diriku, maka aku akan menjaga agar kelak diriku selamat di dunia hingga akhirat. Dan mungkin untuk menyelamatkan diriku sendiri, harus mencintai orang lain, mencintai seluruh makhlukNya, menebarkan rahmat bagi seluruh alam. Segala kesulitan itu harus ditempuh, karena hasilnya akan kembali untukku pula.........


I love me so much.......

Jogja, 23 Mei 2011

Senin, 21 Maret 2011

Sakaw TI

Menjiplak istilah yang digunakan dalam dunia NAPZA. Sakaw, kondisi seseorang yang sudah kecanduan sesuatu, merasa sakit tak berdaya karena tidak mengkonsumsinya. Dan mungkin kita yang sudah terbiasa menggunakan segala fasilitas efek kemajuan teknologi saat ini bisa kecanduan, hingga sakaw. Merasa tak bisa berbuat apa-apa tatkala akses untuk memanfaat teknologi terhambat. Paling tidak rasa berat menjalani pekerjaan tatkala tak menggunakan teknologi.

Pernah suatu ketika, seorang pegawai Pemda Bantul memberikan beberapa buku sangat tebal pada Pak Bima INSIST. Kira-kira satu buku tebalnya 6 cm, Pak Bima INSIST bertanya “Mas, ada softcopynya tidak?” . Kalau ada, kan praktis Mas, tinggal copy paste saja, tidak berat membawanya.”
Kontan, saya tak bisa menahan tawa. Wah, akhirnya ketularann penyakitku, kecanduan TI.. Kebanyakan berkutat dengan komputer, semua pinginnya ada softcopy. Malas membawa print out. Ingin mencari kata kunci tinggal Edit-Find atau Ctrl + F. Membaca cukup sekilas di sekitar kata yang dicari. Padahal, bisa jadi hanya mendapatkan pemahaman parsial saja, maksudnya pemahaman yang tidak menyeluruh. Mungkin ini juga salah satu efek teknologi informasi, saya jadi menggunakan kata-kata ‘aneh’ . Jadi mohon maaf, bila kata-kata yang saya gunakan aneh. Termasuk ada shortcut emoticon semisal :D, =))

Sejak tahun 1997, saya sudah berkenalan dengan komputer. Tapi mungkin lebih banyak berinteraksi dengannya sekitar tahun 2000. Rata-rata 6-18 jam komputer saya menyala. Rasanya aneh ketika harus “berpisah” dengan komputer atau laptop, plus koneksi internet. Rasanya aneh ketika sehari tak masuk dunia maya.

Sudah tau, tak semua yang bersifat praktis itu baik. Tetap saja ada sisi buruknya. Tatkala tersadarkan, hidup itu nyata. Tak baik selamanya berselancar di dunia maya. Tak segalanya bisa diselesaikan di dunia maya. Adakala harus menghadapi dan menyelesaikan di dunia nyata.

Adanya komputer beserta jaringan internetnya memang membuatku benar-benar kecanduan. Sampai-sampai terbesit, ketika harus mengantar barang ke tempat yang agak jauh, berpikir sekiranya makanan, minuman, pakaian, atau barang apapun ini dapat dibuat jadi benda digital sebagaimana foto digital telah dicipta. Lebih parahnya, hingga tak segera menyambut seruan adzan manakala waktu sholat datang. Menyedikitkan waktu untuk tilawah manakala asyik bercengkerama dengan kawan lama di dunia maya. Rasanya ada yang mengganjal di hati ketika modem tertinggal, tapi tiada mengapa ketika sholat terlambat. Tiada sadar menduakan DIA Yang Menciptakan dan Mengasihi..... Astaghfirullah.
Bukankah bisa jadi telah terjangkit syirik.

Syukur alhamdulillah, tatkala hp modem ditemukan orang, kemudian digunakan orang lain. Belajar berpuasa. Tidak mengakses internet beberapa waktu. Berada di depan komputer hanya untuk mengetik hal-hal yang penting dan bermanfaat. Dan mungkin memang obat yang mujarab. Membuatku tiada begitu risau tatkala modem tertinggal di rumah. Malam tak begadang di dunia maya. Seharian tak membuka kunci rumah mayaku.

Komputer, internet....... memang tak sepenuhnya bisa kutinggalkan. Masih kubutuhkan. Untuk mencari bahan, referensi, membuka luas cakrawala pengetahuan. Komunikasi dengan relasi. Banyak hal positif. Namun memang harus digunakan sebagaimana mestinya. Sesuai porsinya. Agar tak lagi merasa gelisah, tak tenang ketika tak bisa mengakses komputer beserta internetnya. Semoga lebih bijak dan arif memanfaatkan sesuatu untuk kemaslahatan.

Minggu, 20 Maret 2011

Agar Tak Sekadar Pintar

Pintar saja tak cukup. Itu menurut saya. Seperti yang telah saya tulis sebelumnya. Lebih beruntung orang yang bisa “memintarkan”, mencerdaskan. Mungkin tak perlu lagi saya tulis di sini kenapa lebih beruntung orang yang bisa mencerdaskan. Agar beruntung, jangan sekadar pintar. Naikkan kualitas diri agar bisa mencetak orang-orang yang cerdas. Bagaimana caranya? Ajarkan kepintaran kita. Dan tak sekadar mengajarkan saja. Asal kita sampaikan. Tentunya agar lebih BERNILAI, orang yang kita ajari harus bisa paham, bisa mengamalkan bahkan bisa terus menularkan. Bagi seorang guru, berusaha agar muridnya paham, bahkan suatu saat bisa menciptakan karya-karya hebat. Disinilah kita perlu strategi yang jitu, agar apa yang kita sampaikan mudah diterima, mudah dipahami oleh murid .

  • Gunakan Bahasa yang Mudah Dipahami

    ”Tidak kami utus seorang rasul kecuali ia harus menjelaskan dengan bahasa kaumnya”(QS.Ibrahim:4)

    Seorang Rosul, yang memiliki sifat fathonah, diperintahkan untuk menyampaikan dengan bahasa kaumnya. Dengan bahasa yang mudah dipahami oleh kaumnya. Kita memang bukan rosul, tapi kita diperintahkan untuk mengikuti Rosulullah bukan?
    Dalam da’wah ada pula kaidah “ berbicaralah dengan bahasa kaummu”
    Sebagai seorang guru (semua orang yang ingin menularkan ilmu), hendaknya menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Mengajar anak-anak seusia SD tentu berbeda dengan mengajar orang dewasa. Selain itu, tiap orang juga berbeda cara dan kemampuan untuk memahaminya. Ketika di suatu kelas, berkumpullah berbagai orang dengan berbagai keadaanya. Maka, kadangkala (sepertinya tidak sekedar kadangkala, tapi sering he he he) kita memperlakukan cara yang berbeda untuk mengajar. Ada yang cepat menangkap apa yang kita maksud hanya dengan sekilas kita menjelaskan. Ada yang mudah memahami manakala kita memberikan analogi atau perumpaan. Ada pula yang harus dengan pelan-pelan, didekati, diberi waktu khusus untuk memahamkan. Maka, kenalilah siapa orang yang kita ajar.
    Mungkin yang kita ajari lebih mudah paham manakala kita sampaikan dengan semangat meledak-ledak. Namun, bisa pula dengan cara yang pelan perlahan-lahan. Tak ada salah, sebagai guru kita terus belajar ilmu komunikasi.


  • Lembutkan Hati

    “Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali ‘Imran:159)


    Tulisan itu ayat dari Al-Qur’an, bukan perkataan saya. Namun kalam dari Pencipta Alam Semesta. Yang Maha Mengetahui akan apa yang Dia cipta.
    Mungkinkah hati yang keras dan kasar mudah menyampaikan ilmunya? Bagaimana bisa, apa yang kita sampaikan didengar, dipahami. Lha wong mereka malah menjauh dari kita. Bukankah Rosulullah SAW telah memberikan contoh, orang yang lembut hati akan mudah berkomunikasi, memahami lawan bicaranya, sekalipun tak menguasai bahasa yang diucapkan. Bukankah anak-anak yang dalam keadaan ceria dan riang akan lebih betah dengan guru yang penyayang? Dan tatkala hati senang, apa yang disampaikan lebih mudah pahami dibandingkan saat hati diliputi ketakutan (karena gurunya seram he he he)?


  • Dekatkan Diri Pada Pemilik Hati

    Rasanya malu sekali tatkala saya ngobrol dengan rekan kuliah malam, seorang Guru yang diamanahi mengajar kelas VI. Banyak sekali kerjaan di sekolah yang beliau lakukan. Apalagi guru kelas VI, membuat beragam media pembelajaran berbasis IT, membuat administrasi sertifikas, tuntutan membuat PTK (Penelitian Tindakan Kelas), dll. Beliau cukupkan diri untuk tidur antara 2-3 jam. Dan dengan entengnya saya komentari “kenapa cuma sebentar pak?”. Beliau menjawab “ Demi anak-anak mbak. Sebagai guru, saya ingin mereka berhasil. Minta sama siapa kalo tidak sama Gusti Allah? Walau di tengah malam, juga akan dilakukan.” Hiksssssssssssss uisin.......... benar-benar malu..... :”>
    Allah Yang Menguasai Hati. Guru tak sekadar mengajar ilmu, tapi juga mendidik. Menasihati anak didik seringkali dibutuhkan. Tepatlah bila mengadu, meminta dibukakan hati agar mudah menerima apa yang kita katakan pada anak didik pada pemilih hati sesungguhnya. Memohonkan kemudahan bagi anak didik kita dalam menuntut ilmu pada Pemilik Hati.
    Seringkali tanpa sadar malah ngomentari si X itu nakale puolllll, si Z ....................
    Astaghfirullah............. kenapa tak mendoakan saja ya. Bukankah da’wah itu tidak pernah dibatasi di dalam masjid. Bukankah di setiap aktivitas dimana kita menyerukan pada kebaikan adalah da’wah? Tak ada salah bahkan memang seharusnya kita memohonkan do’a padaNya untuk kebaikan anak-anak didik kita?
    Mereka tak paham karena mungkin mereka tak mendengar, atau mungkin karena lupa. Mungkin perkataan kita tidak mereka dengar , karena memang tiada berbobot dan tiada berkesan. Berarti bukan kesalahan mereka bukan manakala mereka tak bisa???



Ini hanyalah sekadar corat-coretan cah ngglidig,bukan seorang pakar ahli. Semoga tetap bermanfaat. Tak sekadar untuk guru, dosen yang mengajar di ruangan, tapi untuk siapapun yang ingin berbagi ilmu. Untuk siapapun yang ingin negeri ini maju.Untuk siapapun yang ingin dirinya bermanfaat bagi orang banyak. Untuk siapapun yang tak ingin sekadar pintar, tapi memintarkan, mencerdaskan. Tak sekadar pinter, nanging minterke

Kembali teringat ............
semua orang, guru
semua tempat, sekolah

Minggu, 27 Februari 2011

Prasasti Hutang Budi




Nggonduk. Ada rasa ndongkol di hati. .Kelu di lidah.Semua kata-kata yang santun seolah tersaring,terbendung dalam tenggorokan.Yang lolos saringan justru kata tak santun.Energi yang ada menjadi sebuah energi negatif yang bersatu, kemudian meluap naik ke kepala, menembus ke dalam otak, lalu meluluhlantakan semua tatanan memori tentang kebaikannya.

Akankah semua ingatan tentang kebaikan orang lain kita hapus begitu saja. Hanya karena sepatah kata. Hanya karena hal yang tak menyamankan hati kita? Kala ini ku sadar, tak ingin itu terjadi. Ingin kutulis kebaikan-kebaikan hati. Dari orang tua, saudara, guru, kawan, dan seterusnya. Namun tak akan pernah bisa kutuliskan semuanya. Ada keterbatasan ingatan. Ada ketidakpekaan hati.Ketidaksadaran menerima kebaikan tapi tak merasa.

Mengingat pelajaran sejarah yang pernah didapat. Ada banyak prasasti tentang kebaikan raja yang dipahat di atas batu, menjadi sebuah prasasti. Hingga beratus tahun, bahkan ribuan tahun kemudian masih dikenang. Tapi bila saat ini ingin menulis kebaikan yang didapat dari orang lain, kemudian mengukirnya di atas batu, rasanya kurang efektif dan efisien . He7. Namun yang jelas, terbesit dalam hati. Ingin senantiasa mengingati kebaikan dari orang lain padaku. Dan pastilah, banyak yang belum terbalas. Alias menjadi hutang budi kepada mereka.

Aku bisa membaca dan menulis, atas kebaikan guruku yang mengajariku, mengenalkanku huruf-huruf.Aku bisa berhitung, karena kebaikan guruku yang mengenalkanku angka-angka. Aku bisa membuka luas cakrawala dari dunia maya, karena kebaikan guruku yang mengajariku komputer, mengenalkan tombol enter, hingga internet. Tak hanya satu orang yang mengajariku. Ada banyak. Hingga tak ingat siapa saja yang mengajariku.

Pernah pula ada yang menghibur manakala diri bersedih. Pernah pula ada yang datang menunjukkan manakala tersesat. Pernah pula ada yang mencukupi manakala kekurangan.Dan aku bisa menangis, mengakui sisi kelemahanku. Mengakui masih terselip kebodohan dalam diri, karena ada yang mengajari dan menasehati. Ada hutang budi pada orang lain disini. Dan tulisan inipun tak cukup mewakili banyaknya hutang budi. Tapi setidaknya menjadi pengingat diri. Mengingati banyaknya hutang budi.

Wahai Allah, Dzat Yang Maha Kuasa kami memohon kepadaMu jadikan hati kami senantiasa mengingati kebaikan orang lain pada diri kami. Berusaha membalas kebaikan mereka.Cukupkan lelehan air mata aduan kami kepadaMu, menjadi peluruh amarah kami Dan jangan biarkan ingatan kebaikan orang lain pada diri kami luruh karena amarah ataupun prasangka kami.Duhai Allah Yang Maha Adil, limpahkan kebarokahan dalam hidup, bagi orang-orang yang telah berbuat baik kepada kami
.... Aamiin....


*******************************
“Dan carilah pada apa yang dianugrahkan Allah kepadamu berupa kebahagiaan negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari kenikmatan duniawai, dan berbuatlah baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan dimuka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.QS:28:77
*******************************

Mengeja Kelembutan Hati




Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."


Ketika siang hari asyik browsing buka kotasantri, ada kutipan itu. Seolah sepele, tapi ternyata tak semudah mengucapkan atau mengetikkan kata-kata itu. Kalau dipikir, senyum kan tinggal menarik otot di sekitar bibir saja kan? Tapi kenapa juga terasa berat dilakukan? Apalagi pada orang yang kita anggap melakukan kesalahan besar pada diri kita. Seolah tak termaafkan. (Memangnya kita tak pernah punya dosa???? Padahal bisa jadi dosa kita lebih besar darinya!!!) Rasanya mungkin berat.

Kelembutan hati, tak sekadar membalas senyum dengan senyum, kebaikan dengan kebaikan. Tapi mampukah kita membalas kedongkolan dengan tetap santun orang yang (menurut kita) membuat dongkol? Tetap santun menjawab dengan kata santun tatkala mendapat tanya?


“Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali ‘Imran:159)

Dapat amanah jadi guru, jadi peluang bagiku untuk belajar. Dari setiap tanya anak didik yang menggelitik, kadang menjengkelkan. Sering timbul jengkel juga. Ketika kemarin pagi melihat seorang muridku kelas 2 menampakkan kesedihan karena merasa lemah, merasa bodoh dan merasa bersalah karena tak bisa menulis. Ughhhhhh rasanya...... ya Allah........ Bagaimana bila aku yang ada pada posisi itu. Merasa lemah dan tak bisa berbuat apa-apa ketika yang lain dengan mudah melakukannya.


Tersadar, tak bisa sembarangan mengeluarkan kemarahan. Tak seharusnya hati ini keras.Seolah tersentak pula, bilamana diri yang diperlakukan keras. Sementara kita berharap mendapatkan tanggapan yang baik dan santun atas setiap tanya kita pada orang lain. Bagaimana bila diri kita yang diacuhkan, atau bahkan keberadaan kita justru tak diharapkan oleh orang lain? Karena diri kita dianggap bikin kejengkelan? Bukankah sakit, menyebalkan?

Teringat ketika Rosulullah memerintahkan kepada sahabat apabila ada orang asing yang datang, maka disuruhlah orang yang paling lembut hatinya untuk menjadi perantara. Agar lebih mudah memahami orang asing tersebut. Tanpa bahasa yang dapat dipahami, tetap bisa memahami orang lain. Kuncinya pada kelembutan hati.

Tutur kata yang lembut, perilaku yang santun, wajah yang berseri-seri menjadi penanda lembutnya hati. Bila Rosulullah mengatakan ini adalah kebajikan yang ringan, mungkinkah kita mampu melakukan kebajikan yang lebih besar, bila ini tak mampu kita lakukan?

Mencoba memahami pelajaran tentang kelembutan hati. Tak semudah ketika belajar membaca susunan dari alphabet yang berderet. Mengeja tiap suku kata, mengucapkan kata demi kata. Tapi yang pasti, harus terus mencoba dan berusaha untuk melembutkan hati kita. Agar dengannya, memudahkan cahaya dari Nya masuk ke dalam hati kita. Menjadi penerang dalam hidup kita.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon dengan nama-nama-Mu yang baik, dan sifat-sifatmu yang tinggi, agar berkenan mengkaruniakan hati-hati yang lembut kepada kami agar (senantiasa) mengingat dan bersyukur kepada-Mu.

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu hati-hati yang tenang untuk mengingat-Mu.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu lisan-lisan yang senantiasa basah menyebut-Mu.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu iman yang sempurna, keyakinan yang benar, hati yang khusyuk, ilmu yang bermanfaat, amal shaleh yang diterima di sisi-Mu, wahai Yang Maha Mulia.
Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari fitnah-fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi.



NB : Teruntuk siapapun, saudari-saudaraku.... menghaturkan maaf atas segala kekasaran kata dan perilaku :)

Minggu, 20 Februari 2011

Di Penghujung Akhir Seperempat Abad

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan nikmat yang tiada tara.
Yang telah mengajarkan banyak hal kepadaku.
Melindungi, melimpahkan kasih sayang kepadaku....


Menengok setahun yang lalu. Betapa besar karunia yang Allah berikan.
Setiap pemberianNya adalah karunia yang patut disyukuri. Namun seringkali karena kebodohan, menganggapnya sebagai ketidakadilanNya. Kejutan-kejutan yang menghantarkan pada rasa bahagia. Yang membuka pada ilmu yang selama ini masih tersingkap. Bukan untuk nostalgia. Tapi agar diri senantiasa mensyukuri setiap pemberianNya. Apapun itu. Belajar mencoba memandangnya dari sudut syukur.

Di awal bulan di tahun lalu, pernah mewek. Eh, baru sadar. Alhamdulillah saya orang yang bisa mewek juga. Tidak semua orang bisa mewek. Harus disyukuri juga ini. Alhamdulillah pula. Tak setiap detik meweknya. Di waktu tertentu saja meweknya. Di saat harus cuap-cuap di depan anak-anak ataupun di saat harus jadi trainer “jadi-jadian” alhamdulillah tidak mewek. Baru sadar juga, kalau saya orang yang “kemlinthi”. (susah cari bahasa Indonesianya-red). PD-PD-nya tanya no hp orang yang baru dikenal. Gak tau juga kalo yang ditanya fasilitator tingkat nasional :”> . Alhamdulillah dulu gak tau :D .

Di seperempat abad usiaku, diajari kesungguhan hati akan merubah keadaan menjadi kebaikan. Tapi menyadari, bukan semata karena kesungguhan hati berharap kebaikan. Tapi atas rahmat Illahi.

Di seperempat abad usiaku, bisa ngglidig ke Bumi Pengambangan Insani di Bogor , menapakkan kaki di Senayan. Berharap semoga kelak dapat menapakkan kaki di belahan bumi yang lain. (Karena perintahnya tak sekadar betebaran di Bantul, Jogja, Jakarta, Indonesia, tapi di muka bumi. :) Beragam kejutan dariNya.

Di seperempat abad usiaku pula, baru sadar............ ada banyak amanah yang diemban. Bukan semata karena kita kuat menunaikan. Tapi karena Allah hendak membelajarkan. Menatap wajah yang menahan perih luka. Belajar tentang makna percaya pada saudara. Belajar tentang makna empati dan berbagi. Belajar mendengar dari suara hati. Belajar memilah antara keinginan dengan kebaikan.

Satu persatu amanah tertunaikan. Semua atas Kemahakuasaan Allah. Seperempat abad usiaku, ditutup dengan kebahagiaan saudariku tercinta Dee Choosey dan Masaru Edogawa  . Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah .

Alhamdulillah tak akan pernah cukup menebus nikmat yang Allah berikan. Belajar sepanjang hayat. Mungkin disinilah aku mulai memahaminya. Bukan karena diri sudah pintar lantas dipercaya mengajar, tapi untuk terus belajar. Bukan karena cerdik diri ini dipercaya mendidik, tapi agar diri menjadi lebih baik.

Wahai Allah Yang Maha Berkehendak dan Maha Kuasa, kami memohon kepadaMu, condongkanlah hati kami pada apa yang menjadi RidhoMu, bukan pada apa yang menjadi keinginan dan kesenangan kami. Lapangkan hati kami atas segala kehendak dan ketetapan yang Engkau berikan pada kami. Dan jadikan kami bersyukur atas setiap pemberianMu.
Wahai Allah Yang Maha Pengampun, ampunilah kami. Atas ketidaksyukuran kami...
Atas kebodohan kami. Atas kesombongan kami, atas segala kesalahan kami. Aamiin

Kamis, 23 Desember 2010

Bila Anugrah Terindah = Khitbah dan Nikah

Tumben kali ini ingin menulis tema macam ini. He7.
Beberapa hari terakhir ini lagi sering bersinggungan dengan tema ini. Awalnya iseng nulis tema ini, karena beberapa teman sering nodong dengan pertanyaan, “Eh, Purna mau nikah ya?”
Kujawab, “Iya. Insya Allah. Lha wong sunnah kok”.
Aneh, ini teman-teman lama yang jarang ketemu saja bisa komentar begini. Bahkan sampai ada yang sms berkali-kali. Hmmmmmm. Ada yang tanya kalo mengadakan agenda tanggal X di bulan Y, purna bisa tidak, sepertinya kan ada anggota tim putri ada yang punya hajat (ngarah ke saya). Wedewwwwww
Setelah saya runtut, rupanya mereka berkesimpulan demikian ada yang karena curiga dengan status di facebook atau di yahoo, atau ada pula yang berkata, karena saya ceria terus.
Saya copaskan saja contohnya

CahayaMu indah, menyinari hidupku ini.
Dengan cahayaMu, terang pelita di hatiku
Kurasa indah, di dalam rahmatMu ....... ^_^
Alhamdulillah , Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah Alhamdulillah
Whats in front of your eyes
The biggest miracle of life..... ^_^
_____________________________________
Let it take us by surprise , alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah :)


Senyum senyum sajalah, eh nawan tertawa. Bagaimana tidak, rupanya banyak kawan yang salah menafsirkan status. Dalam hati berkata, wah betapa sempitnya menafsirkan kebahagiaan. Apakah hanya karena mau menikah saja seseorang itu bahagia. Apakah hanya karena sudah dikhitbah saja seseorang itu ceria. Dan apakah karunia terindah itu adalah khitbah kemudian nikah? Kenapa banyak kawan yang secara tak sadar menafsirkan begitu?

Adanya celotehan dari kawan-kawan itu pun membuat saya evaluasi diri juga. Mengingatkan kembali. Sungguh ada banyak karunia yang Allah berikan pada kita, yang seharusnya menjadikan kita bahagia, menjadikan kita ceria.

Akan ada banyak alasan kenapa kita bisa bahagia, kenapa kita bisa ceria.
Kita bisa bahagia pun bukan karena segala hal yang kita inginkan selalu terpenuhi. Tapi cukup Allah menjadikan hati legowo itu juga menjadi sumber kebahagian. Ketika Allah selipkan rasa syukur pada kita, menjauhkan dari putus asa, itu juga jadi sumber bahagia.
Ketika Allah ingatkan kita, bahwa Allah menjamin rezeki untuk kita selama kita hidup, lalu kita tak lagi ada rasa khawatir dalam hati dan hati kita menjadi tenang, itu juga bisa menjadi sumber kebahagiaan.
Ketika Allah mengkaruniakan punya banyak teman, punya banyak saudara, yang senang berbagi dan mengingatkan dalam kebenaran, itu juga jadi sumber bahagia.
Ketika Allah mengangkat rasa sedih kemudian mengabulkan do’a-do’a kita, itu juga bisa jadi sumber bahagia.
Sungguh ada banyak sumber kebahagiaan bagi kita. Namun tak akan dapat kita rasakan, bila kita nafikkan ketiadaan Yang Maha Kuasa, yang telah banyak melimpahkan karunia untuk kita.
Semakin mengenal Allah, bahwa Dia Maha Kuasa, Dia Maha Penyayang, Dia Maha Pemurah, Dia Maha Adil, Dia Maha Kaya dan dengan segala sifat-sifatNya Yang Agung, menjadikan hati lapang tiada bersempit............... sungguh karunia yang tiada tara.
Sebab seberapa banyaknya karunia yang Allah berikan, bisa jadi tak membuat bahagia, sebab ketiadasadaran akan sumbernya. Ketiadasadaran akan rasa syukur.
Saya belajar dari beberapa kawan yang curhat pada saya. Ada yang sudah khitbah, tinggal beberapa hari jelang pernikahan. Katering dan sebagainya sudah siap dipesan. Tapi ternyata tak jadi menikah. Ada pula yang tiba-tiba sms pada saya nangis. Menuliskan puisi sedihnya karena patah hati. Eh maaf, apa ya semoga gak patah hatinya. He7.
Saya senyum-senyum terheran juga. Ini akhir tahun 2010 penuh dengan sms dan curhatan tentang perasaan orang. Bersyukur pula, saya diajari Allah dari pengalaman orang lain tentang legowo dan sumeleh. Tak perlu takut akan masa depan, tak perlu khawatir akan rizki. Tak perlu ketakutan tanpa alasan. Sebab ada Allah Yang Maha Kuasa segalanya.
Mungkin tulisan ini diprotes. Kenapa isinya tidak bercerita tentang indahnya khitbah atau nikah? Ya karena memang tujuan tulisan ini mengingatkan. Bahwa belum tentu yang menjadi angugrah teirindah itu adalah khitbah atau nikah. Kenyataannya malah salah satu kawan saya bahagia sekali tatkala pernikahannya yang tinggal beberapa hari lagi batal. Padahal info sudah menyebar. Namun kulihat ketegaran dan justru pancaran keceriaan dari hatinya.
Bila menikah atau khitbah adalah anugrah terindah, dimana posisi iman sebagai karunia yang paling agung? Yang menjadikannya landasan syukur atas berbagai karunia itu. Anugrah terindah dalam hidup ini adalah manakala Allah Yang Maha Kuasa tetap menyayangi kita dengan karunia iman. Dengannya Allah lindungi kita.
Wallahu a’lam.

Rabu, 15 September 2010

Apa Yang Membuatmu Risau?

Apa yang membuatmu risau?

bukankah apa yang kau hadapi kemarin, saat ini dan masa depan telah tertulis

engkau jalani saja peranmu

rizki jg telah dijamin oleh RabbMu selama engkau diberi hidup. Tak mungkin Allah beri hidup tanpa beri rezeki.


Kenapa merasa Dia tak sayang

ketika apa yang engkau cintai diambil . Padahal itu milikNya

Bukankah ketika kau lepaskan dengan mengharap ridhoNya, pun akan diganti dengan yang lebih bagus



Kenapa engkau harus merasa sedih tatkala manusia yang kau anggap teman telah pergi

Bukankah Dia tak pergi meninggalkanmu. Bahkan Dia tetap memberikan nikmat untukmu meski kau tak berterima kasih


Kenapa engkau kecewa tatkala apa yang menjadi keinginanmu tak terwujud?

Bukankah apa yang diberikan tak sekedar apa yang kau inginkan. Tapi yang justru engkau butuhkan. Bahkan apa yang tidak pernah kau minta namun kau butuhkan, namun tak kausadari. Dia berikan.


Setiap kesulitan yang diberikan pasti dibersamai dengan kemudahan. Andaikata kesulitan itu bisa ditimbang. Mustahil kesulitan itu lebih berat dari kemudahan. Bukankah Dia menciptakan dengan keseimbangan. Dialah Yang Maha Adil


menangislah sekehendakmu padaNya

menangis bukanlah cengeng

cengeng tatkala engkau diam dan menyerah pada keadaan yang menghimpitmu


Allah Maha Pengasih, Allah Maha Penyayang, Allah Yang Maha Pencipta, Allah Maha Kuasa, Allah Maha Berkehendak, Allah Maha Kaya, Allah Maha Tahu, Allah Maha Melihat, Allah Maha Mendengar, Allah Maha Adil, Allah, tempat bergantung semua makhluk kepadaNya.

Ya Allah, kami mohon perlindaungan kepadaMu, dari syirik yang kami sadari, maupun tiada kami sadari... Aamiin


Tulisan ini kutujukan untuk orang-orang yang kukasihi. Termasuk pengingat untuk diri sendiri
^_^