Senin, 30 Maret 2009

Sebutir Kelengkeng Untuk Guruku

Menjadi guru tak segampang dalam bayanganku ketika kelas 1 SD. Ternyata menjadi guru ada susahnya juga. Jarak yang harus ditempuh juga membutuhkan energi. Bukan sekadar energi untuk “Sang Kuda Besi”. Tapi energi untuk diri sendiri agar tetap bersemangat. Energi agar rasa penat tak mengalahkan niat.

Mengajar anak-anak SD ternyata juga berbeda dengan mengajar mahasiswa. Mengajar anak SD dibutuhkan kepiawaian tersendiri. Tidak mudah, alias sulit.. Namun bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Sungguh, bersama kesulitan ada kemudahan. Kata-kata ini yang sering kutanamkan dalam benakku.


Pada awal-awal pertemuan, anak-anak merasa takut untuk pelajaran. Terlihat dari wajah dan tingkah mereka. Ketika mereka duduk di depan computer, mereka ragu untuk mengikuti instruksi saya. Mereka mengatakan, “Kalau rusak bagaimana?”. Lantas saya jawab, “Kalau computer rusak dapat diperbaiki, tapi jika kalian takut untuk mencoba, untuk belajar, kalian tak akan pandai”. Saya datangi setiap anak yang tak berani menyalakan computer, tak berani memegang mouse. Saya pegang tangan mereka, dan saya letakkan tangan mereka di atas mouse untuk menggunakan mousenya, sembari membisikkan kepada mereka, agar mereka jangan takut untuk mencoba.

Hari demi hari akhirnya anak-anak menjadi ketagihan pelajaran computer. Ada sisi baiknya, mereka senang untuk belajar computer, namun ada hal di luar dugaan juga. Bapak atau Ibu guru yang mengajar sebelum pelajaran computer harus sering mendengar rengekan ataupun protes agar segera pelajaran computer.

Suatu ketika, saya satu hari tidak berangkat ke MI, karena sakit. Pada pagi harinya, saya berangkat meski agak pusing. Ternyata begitu memasuki gerbang, sudah mendengar anak-anak protes, “Mbak, kok kemarin nggak computer tho? Yakiin……………rugi. Pokoknya besok minta ganti” . Tak hanya satu anak yang berkata demikian. Padahal saya belum turun dari motor. Turun dari motor pun masih ada serbuan serupa dari anak yang lain. Subhanallah……

Menjadi manusia pasti tak luput dari dosa, namun di setiap saat senantiasa memohon agar Dia mengampuni dosaku. Mungkin Allah berkenan untuk menghapus dosaku. Saya sakit. Detak jantung tidak beraturan, pusing, demam, mual….tidak enak pokoknya. Hingga berobat ke rumah sakit dan melakukan tes ECG. Semakin tidak karuan rasanya. Jangan-jangan ada penyakit jantung. Praktis selama sakit, tak bisa berangkat mengajar, bahkan hanya berbaring. Istirahat total. Tak tahu apa jadinya besok kalau sudah berangkat. Bakal diprotes semua anak MI.

Ra dinyono ra didugo. Tak disangka, beberapa sms masuk. “Mbak,…mbak Purna sakit apa? Kok tidak masuk ngajar? Cepat sembuh ya mbak?” Sebuah sms dari seorang murid MI. Trenyuh. Terharu. Cukup menyemangatiku. Saya harus segera sembuh. Kasihan anak-anak menantiku.

“Oe…………..!!! Mbak Purna datang. “
“Mbak, sudah sembuh?”
“Mbak…..kemarin gak computer, pokoknya besok minta ganti”
“Hore….Mbak Purna sudah sembuh”

Ya Allah…..saya belum turun dari motor ….Malu….
Turun dari motor, anak-anak mencium tangan saya.
Ya Allah terima kasih ….

Ketika di laboratorium ada dua anak kelas I. Niken dan Faza.
“Mbak,…mbak Purna sakit ya?” , kata Niken
“Alhamdulillah sudah sembuh. ” , jawabku sembari mendekati mereka.
“Wah….kemarin jadi nggak computer “ kata Faza cemberut.
“Iya …maaf ya…..Mbak baru sakit. Tapi sekarang sudah sembuh kok”
“Mbak, mau tak kasih obat?”
“Obata pa?”
“Mau apa tidak?” kata Faza
“Mau. Boleh” jawabku meski penasaran. Obat apa ya?
“Tapi ada syaratnya.” Faza menggandeng tanganku menuju ke Perpustakaan.
Saya hanya terheran-heran. Kedua anak ini mau ngapain? Saya menurut saja.
“Sekarang mbak Purna tutup mata!” kata Niken.
Saya menutup mata.
“Mbak, nanti buka matanya ya?”
Saya anggukan kepala dan mengkikuti saja keinginan anak-anak itu.
Salah satu dari mereka memberikan sesuatu ke tanganku , kemudian menggenggamkan tanganku. Bentuknya bulat. Apa ya? Bisik hatiku.
“Ini obat buat Mbak Purna. Mbak Purna jangan sakit lagi ya….”
“Boleh buka mata belum?” Kataku
“Sudah !”
Kubuka mataku perlahan-lahan. Subhanallah. Sebutir kelengkeng.
Benar-benar terharu. Mungkin ini bahasa cinta mereka. Tak akan kunilai dari ukuran bendanya. Tapi saya yakin, kedua anak kecil ini memberikannya dengan ketulusan.

Sebutir kelengkeng itu kuterima. Terima kasih Nak. Kelengkeng ini manis. Mungkinkah rasa cinta kami kepada kalian semanis sebutir kelengkeng ini? Malu rasanya pada diri ini. Sudahkah diri ini memberikan kepada mereka dengan ketulusan. Setulus cinta mereka?

0 komentar:

Posting Komentar